Tampilkan postingan dengan label mengenal diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Da'i Ilallah Pemilik Perkataan Terbaik

Da’i atau orang yang berdakwah sungguh telah memegang amanat mulia. Bahkan seorang da’i yang berdakwah dengan ikhlas, sesuai jalan yang dituntunkan syari’at, bukan cari tenar, dialah yang memiliki ‘ahsanu qoulan’ sebagaimana yang akan kita bahas kali ini.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Yang Memiliki Perkataan Terbaik, Siapa Mereka?

Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Al Alusi berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah orang yang berdakwah untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya. Ayat ini mencakup setiap orang yang mengajak ke jalan Allah (termasuk da’i dan muadzin). Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri, Maqotil dan mayoritas ulama.” (Ruhul Ma’ani, 18: 198 – Asy Syamilah)

Asy Syaukani menyebutkan, “Yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang yang berdakwah untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya. Kata Al Hasan Al Bashri, “Dia adalah mukmin yang Allah menerima seruannya dan ia pun menyeru yang lain untuk taat kepada Allah.” (Fathul Qodir, 6: 354 – Asy Syamilah)

Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa para ulama menafsirkan berbeda mengenai maksud orang yang memiliki perkataan yang baik tersebut. Ada yang mengatakan mereka adalah muadzin. Ada yang mengatakan mereka adalah para da’i yang mendakwahi syahadat ‘laa ilaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Pendapat kedua ini menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas, As Sudi, dan Ibnu Zaid. Sedangkan pendapat yang lain seperti dari Al Hasan Al Bashri, yang dimaksud adalah adalah mukmin yang Allah menerima dakwah-Nya karena ia telah menempuh jalan Allah, lalu ia pun mengajak yang lain pada jalan tersebut. (Lihat Zaadul Masiir, 7: 256-257)

Kesimpulannya, ayat tersebut mencakup umum, siapa saja yang menyeru ke jalan Allah, termasuk seorang da’i dan muadzin.

Dakwah yang Diseru

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan,

“Ayat ini bermakna: tidak ada yang memiliki ucapan dan jalan yang lebih baik daripada seorang yang berdakwah ilallah”.

Yang termasuk berdakwah ilallah selanjutnya disebutkan oleh beliau rahimahullah,

Yang dimaksud “مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ”, da’i di jalan Allah adalah da’i yang memberi pengajaran pada orang-orang bodoh, memberi peringatan pada orang yang lalai dan menentang, serta menyanggah ahlu batil. Da’i tersebut juga mengajak dan mendorong untuk beribadah kepada Allah dalam segala macam bentuk peribadahan, serta menyeru untuk memperbagus ibadah sesuai kemampuan. Da’i tersebut juga memperingatkan dengan keras larangan-larangan Allah, menjelaskan jeleknya larangan tersebut dan wajib untuk menjauhinya. Materi dakwah yang utama adalah memperbaiki ushulud diin (aqidah), menyanggah hal-hal yang bertentangan dengan ushulud diin tersebut dengan cara yang baik, melarang dari kekufuran dan kesyirikan. Para da’i tersebut gemar pula beramar ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi munkar (melarang dari kemungkaran).

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menjelaskan kecintaan Allah pada hamba-Nya dengan menyebut berbagai nikmat-Nya, luasnya karunia dan kesempurnaan rahmat-Nya, juga menjelaskan kesempurnaan sifat Allah dan kemuliaan-Nya.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menyemangati umat dengan membawakan berbagai kutipan ilmu dan petunjuk dari Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam, hal ini dengan menempuh berbagai cara yang mengantarkan padanya. Termasuk dalam hal ini adalah menjelaskan akhlak yang mulia, berbuat ihsan kepada seluruh makhluk, membalas setiap kejelekan dengan kebaikan, memerintahkan untuk menyambung hubungan dengan kerabat dan berbakti pada orang tua.

Yang termasuk berdakwah di jalan Allah adalah menasehati manusia di moment-moment manusia banyak berkumpul (seperti saat musim haji, pen), ketika banyak yang tertimpa musibah dengan nasehat yang bersesuaian dengan moment tersebut. Yang didakwahi bukanlah hanyalah segelintir orang. Materi yang didakwahi adalah seluruh kebaikan, ditambah dengan memperingatkan dari segala macam kejelekan. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 749)

Jadikan Tauhid Sebagai Prioritas Dakwah

Sebagaimana telah diisyaratkan oleh Syaikh As Sa’di di atas bahwa materi dakwah utama adalah mengenai ushulud diin, yaitu aqidah. Aqidah dan tauhid merupakan landasan utama. Jika pondasi ini rusak, tentulah bangunan amalan yang dibangun di atasnya akan turut rusak. Sehingga dari sini, dakwah inilah yang harus menjadi prioritas. Ini pula yang menjadi materi para Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam.

Lihatlah bagaimana dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salaam,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 59). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.

Lihat pula bagaimana materi dakwah Nabi Hud ‘alaihis salaam,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 65). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Hud adalah dakwah tauhid.

Lihatlah dakwah Nabi Shalih ‘alaihis salaam,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 73). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.

Lihat pula dakwah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 85). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu’aib adalah dakwah tauhid.

Demikian pula Nabi –kholilullah (kekasih Allah)-, Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Ibrahim adalah dakwah tauhid.

Bahkan demikianlah dakwah segenap Rasul untuk meluruskan aqidah dan mentauhidkan Allah,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.

Berdakwah Sambil Mengamalkan Ilmu

Allah Ta’ala berfirman “وَعَمِلَ صَالِحًا”, yang artinya: “Dan yang beramal sholeh”. Yang dimaksud adalah ketika mereka berdakwah di jalan Allah, mereka juga bersegera beramal mulai dari diri sendiri dengan menjalankan perintah Allah dan beramal sholeh yang diridhoi oleh-Nya.

Yang dikatakan memiliki ‘ahsanu qoulan’ (perkataan yang baik) hanyalah bagi para shiddiqin (orang yang jujur lagi terpercaya), yaitu mereka yang berusaha memperbaiki diri sendiri dan memperbaiki atau menyempurnakan yang lain. Para da’i inilah yang mendapatkan warisan sempurna dari para rasul. Sedangkan yang mengajak kepada kesesatan dan jalan-jalan yang menyimpang, itulah orang disebut ‘asyarrun naas’, manusia yang jelek. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 749)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa da’i ilallah di sini bukanlah orang yang hanya sekedar berdakwah atau mengajak orang lain untuk baik. Namun mereka yang mengajak juga termasuk orang yang mendapat petunjuk, lalu mengajak mengajak yang lain. Ia mengajak kepada kebaikan, namun ia pun mengamalkannya. Begitu pula ia melarang dari suatu kemungkaran, ia pun menjauhinya. Ayat ini adalah pujian bagi setiap orang yang mengajak yang lain pada kebaikan, dan ia sendiri adalah orang yang mendapat petunjuk. Dan tentu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama masuk dalam golongan ini. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Innanii minal Muslimin, Aku termasuk Muslim

Akhir ayat tersebut,

وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. Yang dimaksud adalah mereka patuh pada perintah Allah dan menempuh jalan-Nya. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 749)

Inilah tiga syarat yang disebutkan bagi orang yang dikatakan ‘ahsanu qoulan‘, memiliki perkataan yang baik. Dia berdakwah ilallah, beramal sholeh serta seorang muslim yang tunduk dan patuh. Yang termasuk dalam ayat ini: yang pertama adalah para rasul, kedua adalah para ulama, ketiga adalah para mujahid, keempat adalah para muadzin, kelima adalah setiap orang yang berdakwah dan memberi petunjuk pada kebaikan. (Lihat Aysarut Tafasir, 3: 480 – Asy Syamilah)

Semoga Allah menjadikan kita merupakan bagian dari orang yang memiliki ‘ahsanu qoulan’, orang yang dapat berdakwah dengan ikhlas dan bukan untuk mencari ketenaran bak ‘selebritis’. Itulah yang disayangkan untuk para da’i di TV saat ini. Sampai-sampai MUI memperingatkan para da’i tersebut karena mereka tidak jadi lagi menjadi panutan dan pembimbing agama. Mereka malah menjadi layaknya artis yang ingin tenar sehingga kadang pun mereka melampaui batas dan malah menjadi “pelawak” yang sering banyak guyon, bukan malah ingin memperbaiki hati dan aqidah audience-nya. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.



Semoga Allah memberi taufik dan petunjuk.



@ Ummul Hamam, Riyadh KSA

27 Dzulhijjah 1432 H

www.rumaysho.com

Selasa, 03 Mei 2011

Introduce Allah With You Mind


Perbedaan antara manusia dengan mahluk ciptaan yang lainnya adalah akal, manusia diberi kelebihan yaitu berupa akal. Dengan akal kita bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dengan akal kia bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Dan banyak hal-hal positif yang kita peroleh dengan memanfaatkan akal. Tapi tidak jarang dengan akal pula manusia menjauh dari Allah SWT. Ya, sudah menjadi ketentuan bahwasannya segala sesuatu itu memilki kekurangan dan kelebihan, hal inilah yang menjadi penyeimbangkan apa-apa yang ada dimuka bumi ini.
Kita bisa mengenal ketelitian seorang pengrajin ukiran dari hasil ukirannya. Kita bisa mengenal kehebatan seorang programer dari hasil software yang dibuatnya. Kita bisa mngenal kehebatan seorang juru masak dari hasil makanya. Begitu pula kita bisa mengenal kehebatan Allah SWT dari hasil ciptaannya, yang sehari-hari kita lihat, yang sehari-hari kita dengarkan dan yang sehari-hari kita rasakan.
Akan tetapi tidak sedikit orang yang ?cerdas?, tidak mau mengakui kehebatanNya hanya karena kepentingan-kepentigan pribadi atau kelompok. Hal inilah yang membuat terhambatnya bahkan tidak pernah datang suatu kebenaran pada diri kita. Kita selalu mencari-cari pembenaran terhadap apa yang kita lakukan, bukan mencari suatu hal yang benar lalu kita melakukannya. Mungkin sebagaimana kita ketahui banyak filusuf yang menyangkal kekuasaan Allah SWT dengan cara mengatakan bahwasannya alam ini terbentuk secara kebetulan.
Mungkinkah hidup ini terjadi karena kebetulan?, tanpa ada yang menciptakan, tanpa ada yang merencanakan, tanpa ada yang mengatur, tanpa ada yang menghendaki, tanpa ada yang berkuasa. Teori evolusi berpendapat bahwa kehidupan berawal dengan sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan dalam kondisi bumi yang primitif.
Dengan semua sistem operasionalnya, sel tidak kalah rumitnya daripada kota besar. Sel mengandung daya yang menghasilkan energi yang dikonsumsi oleh sel, sel menghasilkan enzim dan hormon, sel bisa menyimpan semua informasi penting mengenai semua produk yang dihasilkan, sel bisa mengurai bahan-bahan mentah dari luar menjadi bagian-bagian yang bisa dimanfaatkan, dan protein-protein selaput yang dikhususkan untuk mengendalikan bahan-bahan yang keluar-masuk.
Itulah sedikit cerita mengenai sel. Sel yang memiliki komposisi yang sangat rumit mustahil bisa dibuat oleh manusia. Walaupun dengan laboratorium yang sangat canggih sekalipun mustahil sel ini bisa diciptakan. Apalagi tercipta secara kebetulan dari kondisi bumi yang primitif. Semua ini telah terencana, telah ada yang mengatur, telah ada yang menghendaki, dan tentunya ada yang menciptakan. Siapa lagi kalau bukan Allah SWT. Dan masih banyak lagi hal-hal yang makin menguatkan akal kita bahwasannya Allah SWT memang benar-benar ada. Allah SWT tidak diciptakan, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Ialah sang maha pencipta, maha berkehendak, maha mengetahui dan maha segala maha yang ada dialam ini.


Meneliti Aib Diri


Saudaraku,

Mungkin sudah tidak terhitung seberapa banyak aib dari seseorang yang telah kita ungkap di hadapan khalayak ramai. Dan betapa kita mungkin merasa nikmat karena telah memperbincangkan hal ikhwal tentang aib seseorang, meskipun kita sendiri sesungguhnya belum yakin akan kebenaran berita dan aib dari orang yang kita bicarakan tersebut. Begitu ringannya lidah kita meluncurkan sebuah kalimat yang kita tidak tahu apakah kalimat tersebut membawa keridhoan Allah SWT atau mungkin malah mendatangkan kemurkaan-Nya – Semoga Allah SWT lindungi kita dari hal demikian.

Saudaraku,

Imam Hasan Al Bashri dalam kalamnya (ucapannya) menyebutkan bahwa, Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau perbaiki orang lain.
Setiap kau perbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan sesungguhnya, hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri.”

Saudaraku,

Semoga petikan ucapan singkat dari Imam Hasan Al Bashri di atas cukup dan bisa menjadi renungan buat kita bersama dan semoga hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk tiada henti-hentinya mengevaluasi diri dan berhati-hati dalam setiap ucapan yang akan kita buat.

Astaghfirullahal ‘adhiim,

Wallahu a’lam
Sumber :http://zidaburika.wordpress.com/2009/06/15/meneliti-aib-diri-sendiri/