Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Teaching In Harmony


Suasana kondusif dalam pembelajaran harus diciptakan dan tetap dijaga, demi tercapaian tujuan pembelajaran. Namun demikian kerap terjadi disharmonisasi hubungan antara guru dengan muridnya disebabkan, factor-faktor tertentu, seperti, masalah pribadi guru, kondisi psikologi siswa, keadaan lingkungan, dan faktor lainnya,

Untuk menciptakan suasana kondusif, maka guru dan murid perlu melakukan upaya-upaya untuk mencapai suasana kondusif itu, salah-satu upaya untuk mencapai suasana kondusif, maka guru dan murid perlu melakukan upaya-upaya untuk mencapai suasana kondusif itu. Salah satu upaya untuk mencapainya melalui pendekatan tiga “T“, yaitu taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami atau saling pengertian), dan taawun (saling menolong). Kiranya langkah tersebut dapat ditempuh, dalam rangka menjaga, keharmonisan hubungan guru, dengan murid, demi tercapainya, tujuan pembelajaran, yang pada akhirnya dapat mencapai tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang, system pendidikan nasional.

1. Taaruf (saling mengenal)

Dalam pengertian sederhana, saling mengenal bermakna bahwa muridnya dan sebaliknya, murid harus juga mengenal, muridnya dan sebaliknya, murid harus mengenal gurunya, dalam konteks interaksi.guru dengan murid, prinsip saling mengenal tidak hanya sebatas mengenal nama atau alamat saja, tetapi sangat penting, juga saling mengenal secara utuh dan menyeluruh, baik secara fisik maupun psikologis, dengan demikian, guru dan murid dituntut saling mengenal dari aspek individu, keluarga, sosial, ekonomi, budaya, potensi, kelemahan dan keunggulannya. Jika guru dan murid, memiliki kemampuan saling mengenal, maka hubungan guru dengan murid, akan terjalin baik. Hal itu tentu amat mendukung proses pembelajaran.

2. Tafahum (Saling Memahami)

Setelah saling mengenal, sikap selanjutnya adalah saling memahami kondisi masing-masing. Dengan demikian, guru maupun murid harus mampu menyikapi kondisi masing-masing, dengan sikap yang tepat. Dalam konteks interaksi guru dengan murid, prinsip saling memahami, ini akan melahirkan tindakan atau pendekatan yang tepat. Berdasarkan karakteristik tiap individu. Dari perbedaan harus memiliki kemampuan tindakan yang tepat untuk menangani perbedaan karakter itu. Keputusan menentukan tindakan tertentu, ditentukan oleh seberapa jauh guru memahami kondisi muridnya dengan demikian, semakin guru memahami murid maka tindakan yang diambilpun akan semakin tepat, prinsip saling memahami tentu saja tidak hanya berlaku di dalam ruang belajar. Tetapi jauh lebih baik jika sikap ini tetap dijaga, diluar ruang belajar dengan demikian maka ikatan batin antara guru dengan murid akan selalu erat, sehingga akan melahirkan suasana harmonis,

3. Ta’awun (Saling Menolong)

Prinsip saling menolong antara guru dengan murid, amat penting sebab guru dan murid merupakan dua pihak memiliki tujuan yang sama dengan mencapai tujuan pendidikan. Tolong menolong dalam arti positif harus diciptakan karena pendidikan yang baik, mampu melahirkan perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Pada aplikasinya, guru harus mampu mencegah siswa untuk tidak berbuat menyimpang, dan sebaliknya siswapun harus mengingatkan guru apabila ada perilaku yang dianggap kurang pantas. Jika sikap ini dipelihara, maka ada harapan guru maupun siswa berlomba-lomba berbuat kebaikan. Dengannya, perilaku yang kurang baik akan ditinggalkan, sikap ini tentu saja amat baik dalam rangka membentuk karakter bangsa.

Pendekatan-pendekatan diatas, kiranya dapat dicoba dan diterapkan dalam proses pembelajaran, demi terciptanya tujuan pendidikan nasional.

Oleh Adpani

Guru Mts. /MA Pondok Pesantren Darul Ma’arif,

Margaasih Kabupaten Bandung


Sumber : Koran Beja (Bewara Jawa Barat) Edisi April 2011

Selasa, 03 Mei 2011

Meneliti Aib Diri


Saudaraku,

Mungkin sudah tidak terhitung seberapa banyak aib dari seseorang yang telah kita ungkap di hadapan khalayak ramai. Dan betapa kita mungkin merasa nikmat karena telah memperbincangkan hal ikhwal tentang aib seseorang, meskipun kita sendiri sesungguhnya belum yakin akan kebenaran berita dan aib dari orang yang kita bicarakan tersebut. Begitu ringannya lidah kita meluncurkan sebuah kalimat yang kita tidak tahu apakah kalimat tersebut membawa keridhoan Allah SWT atau mungkin malah mendatangkan kemurkaan-Nya – Semoga Allah SWT lindungi kita dari hal demikian.

Saudaraku,

Imam Hasan Al Bashri dalam kalamnya (ucapannya) menyebutkan bahwa, “Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri. Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau perbaiki orang lain.
Setiap kau perbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri. Dan sesungguhnya, hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri.”

Saudaraku,

Semoga petikan ucapan singkat dari Imam Hasan Al Bashri di atas cukup dan bisa menjadi renungan buat kita bersama dan semoga hal ini menjadi motivasi bagi kita untuk tiada henti-hentinya mengevaluasi diri dan berhati-hati dalam setiap ucapan yang akan kita buat.

Astaghfirullahal ‘adhiim,

Wallahu a’lam
Sumber :http://zidaburika.wordpress.com/2009/06/15/meneliti-aib-diri-sendiri/